Bumi

Kemiripan Antara Fauna Australia Dengan Irian Jaya dan Pulau- Pulau Sektarnya Dilihat Dari Segi Geologi (Tektonik Indonesia Bagian Timur)

garis imajinasi

 

 

tektonik indonesia

 

Salah satu tulisan yang masih perlu koreksi…. tentang negeri dan keanekaragamannya,, tentang geologi, makhluk hidup, dan keberagamannya… ini negeri ku,, negeri impian,, negeri sejuta kisah…

Indonesia merupakan suatu wilayah yang berupa kepulauan, dimana Indonesia ini banyak memiliki cerita yang menarik karena daerahnya yang secara geografis berada diantara dua benua yaitu Australia, dan benua asia, serta diantara dua samudera yaitu samudera Hindia dan samudera pasifik. Dan tidak lupa secara geologi Indonesia merupakan kepulauan yang terbentuk akibat adanya interaksi 3 lempeng yang berperan dalam dinamika bumi diantaranya yaitu lempeng australia(samudera india-benua australia), lempeng eurasia, dan lempeng pasifik. Salah satu tulisan yang cukup menarik yang terinspirasi dari garis Wallace yang akan saya tuliskan pada kesempatan kali ini yaitu tentang perbedaan fauna Indonesia bagian timur dengan Indonesia bagian barat dimana yang akan dititik beratkan atau yang akan menjadi objek tulisan yaitu kesamaan fauna Irian jaya (papua) dan pulau-pulau sekitarnya dengan australia, dan mencoba  mencari kemungkinan faktor geologi yang mungkin berperan(hubungannya) dengan kesamaan tersebut.

Indonesia bagian timur atau terkenal dengan istilah fauna australis sendiri dilihat dari garis Wallace meliputi, irian jaya (papua) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Fauna yang terdapat di Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya mempunyai kesamaan dengan binatang-binatang di benua Australia. Daerah ini juga disebut fauna dataran Sahul. Contohnya antara lain: kanguru, kasuari, kuskus, burung cendrawasih dan berbagai jenis burung lainnya.

Jika ada suatu daerah yang berbeda maka akan ada pula daerah transisi (peralihan) dimana Daerah Peralihan meliputi Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Contoh fauna yang di temukan antara lain: babi rusa, anoa, kuskus, biawak, katak terbang. Katak terbang ini juga termasuk fauna Asiatis. Di daerah fauna peralihan juga terdapat fauna endemik seperti:Komodo di P.Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, tapir (kerbau liar), burung Kasuari diPulau Morotai, Obi, Halmahera dan Bacan.

 

  •   Tektonik Global dan Tektonik Regional Indonesia

Secara global bumi ini tersusun atas lempeng-lempeng yang selalu bergerak mengikuti gaya yang bekerja, lempeng-lempeng yang baru di ketahui dan di akui sampai saat ini diantaranya akan di sampaikan lewat gambar tentang persebaran lempeng dan gaya yang bekerja berikut .

tektonik

 

Tektonik regional indonesia sendiri merupakan ekspresi dari hubungan antara lempeng-lempeng yang bekerja, diantaranya dari ambar persebaran lempeng dan gaya yang bekerja. terdiri dari lempeng india australia (samudera india- benua australia) yang bergerak relatif ke utara, lempeng eurasia yang relatif statis dan lempeng samudera pasifik yang bergerak relatif ke barat laut.

Akibat hubungan antara aktivitas lempeng yang bekerja di kepulauan Indonesia menghasilkan berbagai gejala-gejala tektonik yang berkaitan dengan pembentukan busur kepulauan, kegunungapian, kegempaan, cekungan, dan struktur geologi yang kompleks serta bentukan-bentukan kepulauan indoneisa yang cukup menarik seperti pulau sulawesi yang seolah-olah seperti huruf “K”, pulau Irian Jaya seolah olah bentuknya seperti burung, dan jalur subduksi yang seolah-olah membelok. Hasil-hasil tersebut merupakan ekspresi dari tipe pergerakan lempeng apakah bertumbukan (convergen), memisah (divergent), berpapasan (transform), serta dari komposisi penyusun dari lempeng tersebut. Mengenai perkembangan pergerakan lempeng tersebut  di tampilkan dalam rekonstruksi Hall 1997.

 

 

 

  • Tektonik Regional Indonesia Timur

Evolusi dari busur kepulauan indonesia bagian timur sudah berlangsung selama 30 juta tahun terakhir, dan sangat di pengaruhi oleh pergerekan benua australia ke arah utara serta dorongan dari samudera pasifik yang bergerak ke arah barat.

indonesia timur

 

http://ars.sciencedirect.com/content/image/1-s2.0-S0040195105002040-gr1.jpg

 

 

  • Kondisi Geologi Daerah Irian Jaya (Tektonik Setting)

Menurut Smith (1990), perkembangan Tektonik Pulau Papua dapat dipaparkan sebagai berikut:

Periode Oligosen sampai Pertengahan Miosen (35– 5 JT)

Pada bagian belakang busur Lempeng kontienental Australia terjadi pemekaran yang mengontrol proses sedimentasi dari Kelompok Batugamping New Guinea selama Oligosen – Awal Miosen dan pergerakan lempeng ke arah utara berlangsung cepat dan menerus.

Pada bagian tepi utara Lempeng Samudera Solomon terjadi aktivitas penunjaman, membentuk perkembangan Busur Melanesia pada bagian dasar kerak samudera selama periode 44 – 24 Juta Tahun yang (JT). Kejadian ini seiring kedudukannya dengan komplek intrusi yang terjadi pada Oligosen – Awal Miosen  seperti yang terjadi di Kepatusan Bacan, Komplek Porphir West Delta – Kali Sute di Kepala Burung Papua.  Selanjutnya pada Pertengahan Miosen terjadi pembentukan ophiolit pada bagian tepi selatan Lempeng Samudera Solomon dan pada bagian utara dan Timur Laut Lempeng Australia. Kejadian ini membentuk Sabuk Ofiolit Papua dan pada bagian kepala Burung Papau diekspresikan oleh adanya Formasi Tamrau.

Pada Akhir Miosen terjadi aktivitas penunjaman pada Lempeng Samudera Solomon ke arah utara, membentuk Busur Melanesia dan ke arah selatan masuk ke lempeng Australia membentuk busur Kontinen Calc Alkali Moon – Utawa dan busur Maramuni di New Guinea.

Periode Miosen Akhir – Plistosen (15 – 2 JTL)

Mulai dari Miosen Tengah bagian tepi utara Lempeng Australia di New Guinea sangat dipengerahui oleh karakteristik penunjaman dari Lempeng Solomon. Pelelehan sebagian ini  mengakibatkan pembentukan Busur Maramuni dan Moon-Utawa yang diperkirakan berusia 18 – 7 Juta Tahun. Busur Vulkanik   Moon ini merupakan tempat terjadinya prospek emas sulfida ephitermal dan logam dasar seperti di daerah Apha dan Unigolf,  sedangkan  Maramuni di utara, Lempeng Samudera Solomon menunjam terus di bawah Busur Melanesia mengakibatkan adanya penciutan ukuran selama Miosen Akhir.

Pada 10 juta tahun yang lalu, pergerakan lempeng Australia terus berlanjut dan pengrusakan pada Lempeng Samudra Solomon terus berlangsung mengakibatkan tumbukan di perbatasan bagian utara dengan Busur Melanesia. Busur tersebut terdiri dari gundukan  tebal busur  kepulauan Gunung Api dan sedimen depan busur membentuk bagian “Landasan Sayap Miosen” seperti yang diekspresikan oleh Gunung Api Mandi di Blok Tosem dan Gunung Api Batanta dan Blok Arfak.  Kemiringan tumbukan ini mengakibatkan kenampakan berbentuk sutur antara  Busur Melanesia dan bagian tepi utara Lempeng Australia yang diduduki oleh  Busur Gunung Api Mandi dan Arfak terus berlangsung terus hingga 10 juta tahun yang lalu dan merupakan akhir dan penunjaman dan perkembangan dari busur Moon – Utawa. Kenampakan seperti jahitan ditafsirkan dari bentukan tertutup dari barat ke timur mulai dari Sorong, Koor, Ransiki, Yapen,  dan Ramu – Zona Patahan Markam. Pasca tumbukan gerakan mengiri searah kemiringan  ditafsirkan terjadi sepanjang Sorong, Yapen, Bintuni dan  Zona Patahan Aiduna, membentuk kerangka tektonik di daerah Kepala Burung. Hal ini diakibatkan oleh pergerakan  mencukur dari kepala tepi utara dari Lempeng Australia. Kejadian yang berasosiasi dengan tumbukan busur Melanesia ini menggambarkan bahwa pada Akhir  Miosen usia bagian barat lebih muda dibanding dengan bagian timur. Intensitas perubahan ke arah kemiringan tumbukan semakin bertambah ke arah timur.

Akibat tumbukan tersebut memberikan perubahan yang sangat signifikan di bagian cekungan paparan di bagian selatan dan mengarahkan mekanisme perkembangan Jalur Sesar Naik Papua. Zona Selatan tumbukan yang berasosiasi dengan sesar serarah kemiringan konvergensi  antara pergerakan ke utara lempeng Australia dan pergerakan ke barat lempeng Pasifik  mengakibatkan terjadinya resultante NE-SW tekanan deformasi. Hal itu mengakibatkan  pergerakan evolusi tektonik Papua cenderung ke arah Utara – Barat sampai sekarang. Kejadian tektonik singkat yang penting adalah peristiwa pengangkatan yang diakibatkan oleh tumbukan dari busur kepulauan Melanesia. Hal ini digambatkan oleh irisan stratigrafi di bagian mulai dari batuan dasar yang ditutupi suatu sekuen dari bagian sisi utara Lempeng Australia yang membentuk Jalur Sesar Naik Papua. Bagian tepi utara dari jalur sesar naik ini dibatasi oleh batuan metamorf dan teras ophilite yang menandai kejadian pada Miosen Awal. Perbatasan bagian selatan dari sesar naik ini ditandai oleh  adanya batuan dasar Precambrian yang terpotong di sepanjang Jalur Sesar Naik. Jejak mineral apatit memberikan gambaran bahwa terjadi peristiwa pengangkatan dan peruntuhan secara cepat pada 4 – 3,5 juta tahun yang lalu (Weiland, 1993).

Selama Pliosen (7 – 1 juta tahun yang lalu) Jalur lipatan papua dipengaruhi oleh tipe magma I – suatu tipe magma yang kaya akan komposisi potasium kalk alkali yang menjadi sumber mineralisasi Cu-Au yang bernilai ekonomi di Ersberg dan Ok Tedi. Selama pliosen (3,5 – 2,5 JTL) intrusi pada zona tektonik dispersi di kepala burung terjadi pada bagian pemekaran sepanjang batas graben. Batas graben ini terbentuk sebagai respon dari peningkatan beban tektonik di bagian tepi utara lempeng Australia yang diakibatkan oleh adanya pelenturan dan pengangkatan dari bagian depan cekungan sedimen yang menutupi landasan dari Blok Kemum.    Menurut Smith (1990),   Sebagai akibat  benturan lempeng Australia dan Pasifik adalah terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang kedalam batuan sedimen diatasnya yang sebelumnya telah mengalami patahan dan perlipatan. Hasil penerobosan itu selanjutnya mengubah batuan sedimen dan mineralisasi dengan tembaga yang berasosiasi dengan emas dan perak. Tempat – tempat konsentrasi cebakan logam yang berkadar tinggi diperkiraakan terdapat pada lajur Pegunungan Tengah Papua mulai dari komplek Tembagapura (Erstberg, Grasberg , DOM, Mata Kucing, dll), Setakwa, Mamoa, Wabu, Komopa – Dawagu, Mogo  Mogo – Obano, Katehawa, Haiura, Kemabu, Magoda, Degedai, Gokodimi, Selatan Dabera, Tiom, Soba-Tagma, Kupai, Etna Paririm Ilaga. Sementara di daerah Kepala Burung terdapat di Aisijur dan Kali Sute.  Sementara itu dengan adanya busur kepulauan gunungapi (Awewa Volkanik Group) yang terdiri dari :Waigeo Island (F.Rumai) Batanta Islamd (F.Batanta), Utara Kepala Burung (Mandi & Arfak Volc), Yapen Island (Yapen Volc), Wayland Overhrust (Topo Volc), Memungkinkan terdapatnya logam, emas dalam bentuk nugget.

  • Kesamaan Fauna Irian jaya (Papua) dan Sekitarnya Dengan Australia Berdasarkan Perjalanan A.R. Wallace

A.R. Wallace adalah seorang naturalis Inggris yang gemar melakukan penjelajahan dan penelitian dimana minatnya terhadap bio-geografi begitu besar. Pada tahun 1854 sampai dengan tahun 1862, Wallace melakukan perjalanan mengelilingi Hindia Timur (Indonesia) dimulai dari Pulau Sumatera dan berakhir di Pulau Papua.

Selama 8 tahun mengarungi nusantara Wallace mencatat setiap peristiwa yang dilalui dan dialaminya. Catatan ini kemudian dibukukan dan diberi judul “The Malay Archipelago”. Dalam perjalanannya di bumi nusantara, Wallace juga menemukan sebuah garis imajiner yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian besar. Sebelah barat garis imajinernya, sebagian besar flora dan faunanya memiliki persamaan yang mirip dengan flora dan fauna benua Asia, sementara itu di kepulauan nusantara bagian timur memiliki persamaan dengan flora dan fauna dari benua Australia.

Secara umum, landasan teori utama yang digunakan oleh Wallace adalah kedalaman laut yang memisahkan antara dua pulau. Ia memberikan contoh bahwa Inggris dipisahkan dengan benua Eropa oleh laut dangkal sehingga jenis hewan dan tumbuhannya tidak berbeda dengan yang ada di Eropa daratan, sedangkan Korsika dan Sardinia dipisahkan oleh laut dalam sehingga menyajikan perbedaan yang lebih besar dalam bentuk-bentuk organik. Hal ini sama kondisinya dengan Madagaskar dan Afrika daratan yang dipisahkan oleh terusan selebar 300 mil, yang memiliki banyak ciri khusus yang mengindikasikan pemisahan zaman purbakala yang sangat jauh.

Di Kepulauan Hindia Timur, ditemukan bahwa semua laut luas yang memisahkan Jawa, Sumatera dan Borneo begitu dangkal sehingga kapal-kapal dapat membuang jangkar di bagian laut manapun, termasuk pula dengan Bali, Malaka dan kepulauan Filipina. Wallace kemudian mengeluarkan pendapat bahwa kepulauan besar yang disebutkan di atas pernah menjadi bagian dari benua.

Gajah dan tapir yang ditemukan di Sumatera dan Borneo, badak yang juga terdapat di Jawa, Sumatera dan Borneo, rupanya pada saat ini mendiami suatu bagian di Asia Selatan.

Burung-burung dan serangga-serangga menunjukkan gambaran yang sama, untuk setiap famili dan hampir setiap genus dari kedua kelompok hewan ini yang ditemukan di pulau manapun terdapat juga di Benua Asia, dan dalam sejumlah besar kasus, spesies-spesies ini benar-benar identik.

Kemudian, semua pulau dari Celebes dan Lombok ke arah timur menampilkan kemiripan dengan Australia dan Papua yang hampir sama dekatnya dengan kemiripan pulau-pulau sebelah barat dengan Asia. Diketahui dengan baik bahwa produk alam Australia berberda dengan produk alam Asia.

Australia tidak memiliki kera atau monyet, tidak ada kucing-kucingan, serigala, beruang ataupun hyena. Tidak ada rusa atau antilop, domba, lembu, tidak ada gajah, tupai, kelinci atau kuda. Sebaliknya, Australia memiliki kangguru, opossum, wombat dan platypus berparuh bebek. Demikian pula dengan jenis burung, dimana Australia memiliki kekhasannya sendiri seperti kalkun semak dan nuri berlidah lemak. Semua kekhususan ini juga ditemukan di pulau-pulau yang membentuk bagian Austro-Melayu dari.

Kontras besar juga terjadi antara Bali dan Lombok, dimana kedua daerah itu jaraknya sangat ketat (sekitar 15 mil). Di Bali terdapat burung caladi, burung ciung buah dan burung pelatuk, setelah menyeberang ke Lombok, hewan itu tidak terlihat lagi. Namun di Lombok terdapat kalkun semak sebagaimana di Australia, namun tidak terdapat di Bali.

Di Jawa dan Borneo, hutan-hutan berlimbah dengan monyet-monyet dari banyak jenis, kucing liar, rusa, musang dan lingsang dan banyak macam-macam tupai yang sering ditemui. Di Celebes dan Maluku tidak ada hewan-hewan seperti di atas, tetapi kuskus dengan ekor yang mencengkeram hampir menjadi satu-satunya mamalia daratan yang terlihat disamping babi liar yang ditemukan hampir di semua pulau.

 

Pustaka

Katili, John ario. 2008.”TECTONIC and RESOURCES”. Marine Geological Institute

  • Dari Internet (Di Buka Pada Hari Senin 21 Mei 2012)

http://ars.sciencedirect.com/content/image/1-s2.0-S0040195105002040-gr1.jpg

http://ars.sciencedirect.com/content/image/1-s2.0-S0012821X02007057-gr1.jpg

http://en.wikipedia.org/wiki/File:INDONESIA_geology_map.jpg

http://esverry.blogspot.com/2009/11/tektonik-lempeng.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Garis_Wallace

http://geografientrepreneur.yolasite.com/pergerakan-lempeng-tektonik-kawasan-indonesia.php

http://geologi.iagi.or.id/2009/03/10/geologi-indonesia-dinamika-dan-prosesnya/

http://iwak-pithik.blogspot.com/2012/02/persebaran-flora-fauna-indonesia.html

http://sangfuehrer.blogspot.com/2012/05/tektonik-indonesia-bagian-timur.html

http://sejarah.kompasiana.com/2010/05/30/catatan-fauna-alfred-russel-wallace-di-hindia-timur/

http://smiatmiundip.wordpress.com/2012/04/27/setting-geologi-indonesia/

http://weiminhan.wordpress.com/2010/09/21/paparan-sunda-dan-paparan-sahul/

http://www.geoexpro.com/ckfinder/userfiles/images/2011%20-%20Vol%208/No%202/Indonesia%20The%20Eastern%20Frontier/regional-map.jpg

http://www.papua.go.id/bps/dda%202001/BAB%20I%20LETAK%20GEOGRAFIS/Letak%20Geografis%20Papua.htm

http://www.scribd.com/doc/46943398/Garis-Wallace-Garis-Weber

http://www.scribd.com/doc/83774800/Kondisi-Geologi-Indonesia

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

Mitigasi Bencana Pergerakan Massa (tanah dan atau batuan)

 

Latar Belakang

Indonesia merupakan suatu wilayah yang menarik letaknya yang begitu strategis baik dari kajian keilmuan, politik, perekonomian, dan lain sebagainya letak Indonesia dilihat secara geografis Indonesia berada diantara dua benua berupa benua australia dan benua asia, samudera hindia dan samudera pasifik. Serta jika di lihat dari segi geologi, indonesia merupakan kepulauan yang berada diantara tiga aktivitas lempeng seperti lempeng australia (lempeng samudera hindia dan benua australia), lempeng eurasia, dan lempeng pasifik. Dilihat dari letak geografisnya indonesia merupakan suatu wilayah yang mempunyai iklim global berupa iklim tropis dengan keadaan (Ciri-ciri) seperti suhu rata-rata bulanan tidak kurang dari 18°C,suhu rata-rata tahunan 20°C-25°C,curah hujan rata-rata lebih dari 70 cm/tahun, dan tumbuhan yang tumbuh beraneka ragam. ( Pembagian iklim Dr. Wladimir Koppen 1918)

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Dalam proses perpindahan tersebut yang menjadi salah satu faktornya adalah curah hujan, selain keadan geologi, serta tataguna lahan suatu wilayah.

Karena indonesia termasuk kedalam wilayah tropis maka Indonesia merupakan daerah yang berpotensi akan bencana bahaya longsor, Menurut Pusat Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, ada sekitar 918 daerah rawan longsor yang tersebar di Indonesia.

  • Pengertian Bencana Tanah Longsor

Bencana itu sendiri mempunyai pengertian suatu proses alam atau bukan alam yang menyebabkan korban jiwa, harta dan mengganggu tatanan kehidupan. Dan longsor ini merupakan suatu bencana alam geologi yang diakibatkan oleh suatu proses alami geologi dan atau karena tindakan manusia yang dalam hal tataguna lahan yang kurang tepat atau tidak sesuai. Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah.

Tanah longsor itu sendiri mempunyai pengertian yaitu perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan,tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akanmenambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

 

  • Faktor Penyebab Terjadinya Tanah Longsor

Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.

Ketika gaya gravitasi lebih besar dari resistensi lereng untuk bertahan, maka terjadilah longsor. Gaya penahan (resisting forces) yang membantu mengontrol kestabilan lereng meliputi kekuatan (strength) dan kohesi (cohession) material lereng, friksi antar butiran dan pendukung eksternal lereng lain. Faktor-faktor kolektif ini disebut sebagai shear strength.

Berlawanan dengan shear strength adalah gaya gravitasi. Gravitasi diberikan secara vertikal, namun memiliki komponen yang paralel terhadap lereng, dan inilah sesungguhnya yang membuat ketidakstabilan (lihat gambar.1). Sudut lereng yang besar memberikan komponen gravitasi yang bekerja menjadi lebih besar pula sehingga berbahaya dan dapat menyebabkan longsor.

 

gravitational force

Gambar Kestabilan lereng sangat tergantung pada shear strength lereng yang meliputi kekuatan dan kohesivitas material lereng, friksi internal antarbutiran dan daya dukung eksternal lereng (Monroe & Wicander, 1997).

Semua lereng berada pada kondisi kesetimbangan dinamik (dynamic equilibrium) artinya bahwa lereng selalu menyesuaikan kesetimbangan terhadap kondisi terbaru. Ketika kita mendirikan bangunan dan jalan di daerah perbukitan, maka kesetimbangan lereng akan terjadi. Lereng kemudian melakukan penyesuaian yang mungkin saja menyebabkan terjadinya longsor untuk membentuk kondisi yang baru. Banyak faktor yang dapat menyebabkan longsor, yaitu perubahan tingkat kelerengan (slope gradient), pelemahan material lereng karena pelapukan (weathering), meningkatnya kandungan air (water content), perubahan pada vegetasi penutup lereng dan kelebihan pembebanan (overloading).

a.    Sudut Lereng

Sudut lereng dapat menjadi penyebab utama longsor. Umumnya, lereng yang curam akan kurang stabil karenanya lereng yang curam akan memiliki kemungkinan longsor dibanding lereng yang landai. Sejumlah proses dapat menyebabkan lereng menjadi lebih terjal (oversteepen). Salah satu disebabkan oleh pemotongan pada bagian dasar lereng oleh aktivitas sungai atau aksi gelombang. Hal ini akan memindahkan dasar lereng (slope’s base) dan meningkatkan sudut lereng. Aksi gelombang, terutama selama badai seringkali menghasilkan longsor sepanjang tepi pantai atau danau yang besar.

sudut lereng

Gambar Pemotongan oleh erosi sungai. (A) pemototongan bagian dasar lereng akan meningkatnya sudut lereng. (B) menyebabkan kehilangan kestabilan lereng. Penggalian untuk jalan dan bangunan di perbukitan adalah penyebab utama kerusakan lereng (slope failure). Peningkatan lereng yang semakin terjal atau pemotongan bagian sisinya akan meningkatkan tegasan pada batuan atau tanah (soil) sehingga keseimbangan menjadi terganggu dan terjadilah longsor. 

b.     Pelapukan dan Iklim

Longsor lebih sering terjadi pada material lereng yang lepas-lepas atau tidak terkonsolidasi dibandingkan dengan lapisan batuan dasar padat (solid bedrock. Semakin dalam zona pelapukan yang terbentuk, maka semakin besar kemungkinan terjadinya beberapa tipe longsor. Di daerah tropis, temperatur tinggi menyebabkan hujan sering terjadi sehingga menyebabkan pelapukan meluas hingga kedalaman beberapa puluh meter dan longsor yang berlangsung cepat biasanya terjadi pada zona pelapukan yang dalam.

c.     Kandungan Air

Jumlah air di dalam batuan dan tanah mempengaruhi kestabilan lereng. Kuantitas air yang besar meningkatkan kemungkinan kerentanan lereng. Penambahan berat sejalan dengan penambahan air sudah cukup untuk menyebabkan longsor. Selanjutnya perkolasi air sepanjang material lereng membantu untuk mengurangi friksi antar butiran sehingga menunjukkan kehilangan kohesi. Contoh, lereng berkomposisi lempung kering akan cukup stabil, tetapi ketika basah maka dengan cepat akan kehilangan kohesivitas dan friksi internal sehingga menjadi sebab ketidakstabilan lereng.

 d.     Vegetasi

Vegetasi berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Air yang terserap dari turunnya hujan membuat vegetasi berperan dalam menjaga kejenuhan air (water saturation) pada material lereng yang jika hal sebaliknya terjadi maka akan kehilangan shear strength. Sistem akar tanaman juga menjaga kestabilan lereng dengan jalan mengikat partikel tanah bersama-sama dan mengikat tanah dengan batuan dasar. Beberapa perbukitan di Selandia Baru sering terjadi longsor karena tanaman dengan akar yang dalam diganti dengan rerumputan yang mempunyai akar dangkal. Ketika hujan tiba, akar ini tidak mampu menahan lereng sehingga terjadi longsor.

e.    Overloading

Overloading (pembebanan berlebih) hampir selalu disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penimbunan, pengisian dan penumpukan material. Dibawah kondisi alamiah, beban material disangga oleh kontak antar butir (grain-to-grain contact) sehingga menjaga kestabilan lereng. Penambahan beban yang disebabkan karena peningkatan tekanan air didalam material akan menurunkan shear strength lereng karena itulah terjadi pelemahan material lereng.

f.    Geologi dan Kestabilan Lereng

Hubungan antara topografi dan geologi suatu daerah sangatlah penting dalam menentukan kestabilan lereng. Jika batuan memiliki kemiringan kedudukan yang paralel dengan kelerengan, maka kemungkinan longsor lebih besar dari lereng dengan kedudukan batuan yang horizontal atau berlawanan arah terhadap kelerengan. Ketika kemiringan batuan searah dengan lereng, air mengalami perkolasi sepanjang bidang-bidang perlapisan sehingga menyebabkan menurunnya kohesivitas dan friksi antara satuan batuan yang berdampingan. Pada keadaan tertentu bila hadir lapisan batulempung, maka batuan ini dapat menjadi bidang gelincir ketika kondisinya basah. Walaupun batuan mempunyai kedudukan horizontal atau miring berlawanan dengan kelerengan, dapat saja rekahan memiliki arah yang sama dengan kelerengan. Air akan dapat bermigrasi melaluinya kemudian melapukkan dan memperbesar bukaan hingga beban berat dari lapisan diatasnya tidak sanggup lagi untuk ditahan dan terjadi longsor.

  •   Jenis-Jenis Tanah Longsor

Berdasarkan mekanisme dan materialnya (Varnes, 1958 dalam Nitihardjo, 1995), maka maka gerakan tanah dapat digolongkan menjadi 6 (enam) jenis. Gerakan tanah atau tanah longsor merupakan fenomena alam yang lazim terdapat di Indonesia.

 

No

Type Subtype Description
1. Falls - Rockfall (bedrock)

- Soifall (Loose material)

2. Sllides Rotational - Slump (bedrock or cohesive units of

material

Planar - Block-glide (bedrock or cohesive units

Loose mterial)

- Rockslide (bedrock)

- Debris slide (loose material)

3. Flows Dry - Rock avalanche

- Sand run

- Loes flow

Moderately wet - Debris avalanche

- Earth flow

Very wet - Sand or silt flow

- Debris flow

- Mud flow

Tabel Klasifikasi Gerakan Tanah (Varnes, 1958 dalam Nitihardjo, 1995).

mass wasting 

  • Gejala Umum Tanah Longsor

Terdapat gejala-gejala yang umum dan biasanya di jumpai pada suatu lokasi yang terjadi di daerah yang berpotensi tanah longsor diantaranya yaitu

  • Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
  • Biasanya terjadi setelah hujan.
  • Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
  • Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

 

  • Upaya Mitigasi Bencana

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bahaya. Peringatan dini adalah serangkain kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwewenang. Sedangkan sistem peringan dini (Early Warning System) yang merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat dengan maksud mengurangi dampak yang mungkin akan di timbulkan apabila bencana alam (tanah longsor) terjadi.

Upaya mitigasi bencana secara umum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana di bagi kedalam tiga tahapan yaitu pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana.

a) Pra Bencana

Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi bencana meliputi:

  • perencanaan penanggulangan bencana;
  • pengurangan risiko bencana;
  • pencegahan;
  • pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
  • persyaratan analisis risiko bencana;
  • pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
  • pendidikan dan pelatihan; dan
  • persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.

b)  Tanggap Darurat

Penyelenggaraan penanggulangan bencana saat tanggap darurat meliputi:

  • pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya;
  • penentuan status keadaan darurat bencana;
  • penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana;
  • pemenuhan kebutuhan dasar;
  • perlindungan terhadap kelompok rentan; dan

c)  pasca Bencana

Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pascabencana meliputi:

  • rehabilitasi

Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan:

  • perbaikan lingkungan daerah bencana;
  • perbaikan prasarana dan sarana umum;
  • pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;
  • pemulihan sosial psikologis;
  • pelayanan kesehatan;
  • rekonsiliasi dan resolusi konflik;
  • pemulihan sosial ekonomi budaya;
  • pemulihan keamanan dan ketertiban;
  • pemulihan fungsi pemerintahan; dan
  • pemulihan fungsi pelayanan publik.
  • rekonstruksi.

Rekonstruksi yang dilakukan melalui kegiatan pembangunan yang lebih baik, meliputi:

  • pembangunan kembali prasarana dan sarana;
  • pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;
  • pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat;
  • penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana;
  • partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi
  • kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat;
  • peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
  • peningkatan fungsi pelayanan publik; dan
  • peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.

 

 

 

  • Kegiatan Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Tindakan yang dapat di lakukan sebelum terjadinya bencana (pra bencana)

 

 

  • Pemetaan.

Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukkan kepada masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan propinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana.

  • Penyelidikan.

Mempelajari penyebab dan dampak dari suatu bencana sehingga dapat digunakan dalam perencanaan penanggulangan bencana dan rencana pengembangan wilayah.

 

  • Pemeriksaan dan pemantauan

Melakukan penyelidikian pada saat dan setelah terjadinya bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penanggulangannya. Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis sevara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

  • Sosialisasi.

Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Propinsi/kabupaten/kota atau masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain, mengirim poster, booklet dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah.

  • Pemeriksaan bencana longsor.

Bertujuan mempelajari penyebab, proses terjadinya, kondisi bencana dan tata cara penanggulangan bencana di suatu daerah yang terlanda bencana tanah longsor.

Tindakan Yang Bisa Dilakukan saat terjadi bencana tanah longsor

Yang harus dilakukan dalam tahap tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus di perhatikan, antara lain:

  • Kondisi Medan
  • Kondisi bencana
  • Peralatan
  • Informasi bencana

Tindakan yang dapat di lakukan Sesudah terjadi bencana tanah longsor

  • Rehabilitasi

Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi social, ekonomi dan sarana transportasi. Selain itu di kaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendaliakn.

  • Rekonstruksi

Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang di bangun pada jalur tanah longsor hampir 100%.

 

PUSTAKA

UU RI Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana

Somatri, Lili. Kajian Mitigasi Bencana Longsor Lahan Dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh”

R, Ranto Parlindungan, Teuku faisal Fathani, Dwikorita Karnawati. 2008. Mitigasi Bencanaberbasis Masyarakat Pada Daerah Rawan Longsor Di Desa Kalitalaga Kecamatan Pagetan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Forum Teknik sipil: UGM

Dari sumber internet:

http://poetrafic.wordpress.com/2010/08/23/faktor-penyebab-longsor/

http://www.anneahira.com/longsor.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor

http://jetgeo.blogspot.com/2009/03/analisiskerentanan-gerakan-tanah-dengan.html

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

Cerita Tentang Panas Bumi dan Indonesia

Cerita Tentang Panas Bumi dan Indonesia

Indonesia merupakan salah satu Negara yang di anugerahi banyak kenikmatan, begitu banyak  sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, minyak bumi, batubara, emas, dan lain-lainnya, yang merupakan sumber daya geologi. Dan pada kesempatan kali inisaya akan mencoba menyampaikan tentang salah satu sumber daya geologi yang menarik, yaitu panas bumi.

             Panas Bumi (Geotermal)
Secara bahasa, kata geothermal terbentuk dari dua kata yaitu geo yang berarti bumi dan thermal yang artinya panas. Jadi istilah geothermal sama saja dengan panas bumi. Geothermal dapat dimaknai sebagai energi panas yang terbentuk secara alami dibawah permukaan bumi. Panas bumi merupakan sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air dan batuan, yang keberadaannya bersama mineral ikutan dan gas lainnya dalam satu sistem yang secara keterjadiannya tidak bisa saling dipisahkan. Secara alami sumber energi panas bumi umumnya berada bersamaan dengan keterdapatan gunung api, selain bisa juga panas bumi merupakan efek dari gradien geotermal. Dimana stiap turun 100 ke bawah permukaan (kedalam perut bumi) suhu naik sebesar 3o C. sistem panas bumi terbentuk sebagai hasil dari sumber panas yang ada di sekelilingnya baik berupa konduksi ataupun konveksi. Untuk perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, dan untuk perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas.
Beradasarkan sumber yang ada energy geothermal di bawah perut bumi memiliki cadangan energy yang cukup besar, dimana jumlah cadangan di seluruh dunia mencapai  kisaran 50.000 kali lebih banyak dari pada cadangan energy fosil (U.S. Departement Energy, 2005). Secara umum penggunaan energi panas bumi (geothermal) fikelompokan menjadi tiga, diantaranya adalah untuk energy listrik, penggunaan secara langsung, dan pemanasan atau pendinginan bangunan dengan pompa-pompa panas geothermal.
gambar sistem panas bumi (dongeng geologi)
Untuk penggunaan dalam hal energy listrik, dimana dalam hal ini tenaga yang berasal dari uap panas bumi digunakan untuk menggerakan turbin yang nantinya menghasilkan energy listrik. Pemanfaatan energi panas bumi untuk membangkitkan listrik dilakukan dengan mengebor daerah yang berpotensi panas bumi. Pemboran dengan membuat lubang untuk keluarnya gas panas yang akan dimanfaatkan untuk memanaskan ketel uap (boiler) sehingga uapnya bisa menggerakkan turbin yang tersambung ke generator.
Dalam hal penggunaan langsung (direct use) , pada umumnya sebuah bor dimasukan kedalam reservoar  geothermal  yang tujuannya adalah untuk mengalirkan uap air panas dengan menggunakan sitem mekanik berupa pemompaan dengan pipa-pipa, pengatur panas, dan pengontrol-pengontrol, kemudian dialirkan ke tempat-tempat yang akan menggunakannya. Dimana air panas  dari sumber geothermal mampu digunakan untuk  rumah kaca, pengeringan hasil panen, pemanas ruangan, pengobatan. Atau yang lainnya.
Pada umumnya penggunaan energy geothermal secara langsung dilakukan pada suhu reservoar yang sudah tidak ekonomis untuk digunakan sebagai pembangkit listrik., yang dimana suhu yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik berkisar  antara 50oC sampai 150oC.

 Potensi Panas Bumi Di Indonesia
Berdasarkan sumber yang ada Potensi energi panas bumi yang dimiliki oleh Indonesia mencapai   sekitar 28.000 MW (sekitar 40% cadangan dunia) dengan potensi sumber daya 13440 MW dan reserves 14.473 MW tersebar di 265 lokasi di seluruh Indonesia. Dari potensi sebesar tersebut, 4% atau 1.189 MW telah dimanfaatkan energinya untuk pembangkitan tenaga listrik dengan kapasitas terpasang terbesar berada di daerah Jawa Barat yaitu sebesar 1057 MW (20% dari cadangan), kemudian diikuti oleh Jawa Tengah 60 MW, Sulawesi Utara 60 MW dan Sumatera Utara 12 MW. Selain hal itu juga limbah dari panas bumi dapat mengandung emas. untuk lebih jelasnya lihat tulisan dari dongeng geologi tentang Limbah Panas Bumi Mengandung Emas.

           Daftar pustaka
A, Prihadi Sumintadireja, 2005, Catatan Kuliah Vulkanologi dan Geotermal, Bandung: ITB
Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

SIFAT KEMAGNETAN DALAM BATUAN

Wildan Nur Hamzah

H1F010067

PROGRAM STUIDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVESITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURBALINGGA

2011

Abstrak

                beberapa mineral ada yang bersifat magnetis, seperti pada magnetit, pyrotite, dan lain-lain.  Oleh karena hal tersebut kita perlu mengenal sifat kemagnetan pada mineral yang merupakan penyusun batuan.

Metode magnet adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan.

Susceptibilitas magnet batuan adalah harga magnet suatu batuan terhadap pengaruh magnet, yang pada umumnya erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida besi. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, akan semakin besar harga susceptibilitasnya.

Sifat magnetik material pembentuk batuan – batuan dapat dibagi menjadi : Diamagnetik, Paramagnetisme, Ferromagnetik, Antiferromagnetik,Ferrimagnetik.

Pendahuluan

                 seperti kita ketahui di alam ini kita mengenal 3 jenis batuan diantaranya adalah, batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf, dimana batuan- batuan itu tersusun dari satu mineral atau beberapa mineral. Dan pada beberapa mineral ada yang bersifat magnetis, seperti pada magnetit, pyrotite, dan lain-lain.  Oleh karena hal tersebut kita perlu mengenal sifat kemagnetan pada mineral yang merupakan penyusun batuan.

Stabil tidaknya magnetisasi pada suatu batuan sangat tergantung pada jenis mineral dan ukurannya. Sifat  magnetik pada batuan ini juga berperan dalam metode geomagnetik untuk eksplorasi.

ISI

Sifat kemagnetan

Metode magnet adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan. Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di permukaan bumi yang disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik dibawah permukaan, kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin teramati. Pengukuran intensitas medan magnetik dapat dilakukan di darat, laut maupun udara.

Susceptibilitas magnet batuan adalah harga magnet suatu batuan terhadap pengaruh magnet, yang pada umumnya erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida besi. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, akan semakin besar harga susceptibilitasnya. Metoda ini sangat cocok untuk pendugaan struktur geologi bawah permukaan dengan tidak mengabaikan faktor kontrol adanya kenampakan geologi di permukaan dan kegiatan gunungapi.
Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.

Sifat magnetik material pembentuk batuan – batuan dapat dibagi menjadi :

1.Diamagnetik

Dalam batuan diamagnetik atom – atom pembentuk batuan mempunyai kulit elektron berpasangan dan mempunyai spin yang berlawanan dalam tiap pasangan. Jika mendapat medan magnet dari luar orbit, elektron tersebut akan berpresesi yang menghasilkan medan magnet lemah yang melawan medan magnet luar tadi mempunyai Susceptibilitas k negatif dan kecil dan Susceptibilitas k tidak tergantung dari pada medan magnet luar. Contoh : bismuth, grafit, gypsum, marmer, kuarsa, garam.

2.Paramagnetisme

Di dalam paramagnetik terdapat kulit elektron terluar yang belum jenuh yakni ada elektron yang spinnya tidak berpasangan dan mengarah pada arah spin yang sama. Jika terdapat medan magnetik luar, spin tersebut berpresesi menghasilkan medan magnet yang mengarah searah dengan medan tersebut sehingga memperkuatnya. Akan tetapi momen magnetik yang terbentuk terorientasi acak oleh agitasi termal, oleh karena itu bahan tersebut dapat dikatakan mempunyai sifat:
Susceptibilitas k positif dan sedikit lebih besar dari satu.

Susceptibilitas k bergantung pada temperatur.
Contoh : piroksen, olivin, garnet, biotit, amfibolit dll.

Dalam benda-benda magnetik, medan yang dihasilkan oleh momen-momen magnetik atomik permanen, cenderung untuk membantu medan luar, sedangkan untuk dielektrik-dielektrikmedan dari dipol-dipol selalu cenderung untuk melawan medan luar, apakah dielektrik mempunyai dipol-dipol yang terinduksi atau diorientasikan.

3.Ferromagnetik.

Terdapat banyak kulit electron yang hanya diisi oleh suatu electron sehingga mudah terinduksi oleh medan luar.keadaan ini diperkuat lagi oleh adanya kelompok-kelompok bahan berspin searah yang membentuk dipole-dipol magnet (domain) mempunyai arah sama, apalagi jika didalam medan magnet luar.

Ferromagnetik.Mempunyai sifat:

susceptibilitas k positif dan jauh lebih besar dari satu.

Susceptibilitas k bergantung dari temperature. Contoh : besi, nikel, kobalt.

4.Antiferromagnetik

Pada bahan antiferromagnetik domain-domain tadi menghasilkan dipole magnetic yang saling berlawanan arah sehingga momen magnetic secara keseluruhan sangat kecil.

Bahan antiferromagnetik yang mengalami cacat kristal akan mengalami medan magnet kecil dan suseptibilitasnya seperti pada bahan paramagnetic suseptibilitas k seperti paramagnetic, tetapi harganya naik sampai dengan titik curie kemudian turun lagi menurut hukum curie-weiss. Contoh : hematite(Fe2O3 )

 

5.Ferrimagnetik

Pada bahan ferrimagnetik domain-domain tadi juga saling antiparalel tetapi jumlah dipol pada masing-masing arah tidak sama sehingga masih mempunyai resultan magnetisasi cukup besar. Suseptibilitasnya tinggi dan tergantung temperatur.

Contoh : magnetit ( Fe3O4 ), ilmenit ( FeTiO3 ), pirhotit ( FeS ).

Kesimpulan

Sifat magnetik pada mineral alamiah dikaji secara mendalam dalam bidang paleomagnetisme atau kemagnetan purba. Stabil tidaknya magnetisasi pada suatu batuan sangat tergantung pada jenis mineral dan ukurannya. Sifat  magnetik pada batuan ini juga berperan dalam metode geomagnetik untuk eksplorasi. Ditinjau dari sifat magnetiknya, mineral umumnya dikelompokan menjadi diamagnetik, paramagnetik dan feromagnetik (termasuk ferimagnetik dan antiferomagnetik).

  • Contoh Diamagnetik yaitu: bismuth, grafit, gypsum, marmer, kuarsa, garam.
  • Contoh mineral paramagnetisme yaitu: piroksen, olivin, garnet, biotit, amfibolit dll.
  • Contoh mineral feromagnetik yaitu: besi, nikel, kobalt.
  • Contoh mineral Antiferromagnetik, yaitu: hematite
  • Contoh mineral Ferrimagnetik, yaitu: magnetit ( Fe3O4 ), ilmenit ( FeTiO3 ), pirhotit ( FeS ).

Daftar pustaka

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

GEOLOGI

GEOLOGI

            Tanpa disadari pengetahuan tentang geologi sudah diterapkan sejak zaman prasejarah. Untuk sebagai contoh, manusia purba sudah mengetahui jenis batuan yang baik untuk senjata, untuk berburu, dan mempertahankan dirinya, dan juga lempung yang digunakan sebagai bahan baku tembikar, dan mereka sudah mengetahui dimana bisa mendapatkan atau mencarinya.

           

Beberapa doktrin revolusioner yang dikenal sekitar abad ke 17, k1 18. yaitu

 

1. Catastrophism

Sepanjang abad ke 17 dan 18 doktrin katatrofisme sangat popular. Para penganutnya percaya bahwa bentuk permukaan bumi dan segala kehidupan diatasnya terbentuk dan musnah dalam sesaat akibat suatu bencana (catatophisme) besar.

2. Uniformitarianism

            Akhir abad ke 18 dianggap sebagai permulaan geologi modern, karena pada masa ini, James Hutton bapak geologi modern, seorang ahli fisika Skotlandia, pada tahun 1795 menerbitkan bukunya yang berjudul: theory of the earth dimana ia mencetuskan doktrin uniformitarianism. Doktrinnya menyatakan bahwa hokum-hukum fisika, kimia, dan biologi yang berlangsung saat ini juga berlangsung pada masa lampau.  Doktrinnya lebih terkenal sebagai.

 

“THE PRESENT IS THE KEY TO THE PAST”

 

Gaya-gaya dan proses-proses yang membentuk permukaan bumi seperti yang kita amati sekarang ini telah berlangsung sejak terbentuknya bumi.

Geologi adalah suatu ilmu yang mempelajari bumi, dan merupakan kelompok ilmu yang mempelajari bumi secara menyeluruh mencakup asal mula terbentuknya, komposisi, struktur, sejarah(termasuk perkembangan kehidupan) dan proses-proses alam yang talah atau sedang berlangsung yang menjadikan keadaan bumi seperti sekarang ini. ( buku catatan kuliah geologi fisik ). Dan ahli di bidang geologi disebut ahli geologi, geologiawan atau geologist., yang bekerja disetiap sudut dunia, dari puncak yang tertutup es, sampai kegunung api yang masih aktif sampai kedasar laut dalam. Berusaha untuk mengerti mengenai semua proses yang berlangsung di bumi dan mendokumentasikan sebagai sejarah bumi yang panjang dan kompleks.  Untuk itu dilakukan penelitian langsung disetiap tempat yang dapat dicapai. Untuk bagian yang tidak tercapai, bagian permukaan bumi misalnya, untuk investigasinya dilakukan dengan pemboran dalam, atau investigasi tidak langsung, yang berasal dari getaran-getaran gempa bumi.

Proses-proses yang diteliti, semuanya mengabut hokum-hukum alam yang telah ditemukan oleh ahli-ahli fisika, kimia, dan matematika, sehingga timbul pendapat bahwa geologi bergantung pada ilmu yang lain (derivative science), tetapi geologi merupakan ilmu yangkhusus dan sangat nyata ( practical science)., karena ilmu geologi berdasarkan hasil observasi. Jadi dapat dilihat dan dibuktikan. Dan geologi merupakan kelompok ilmu yang terus berkembang.

Cabang-cabang geologi terdiri dari:

Mineralogy, adalah ilmu yang mempelajari mineral-mineral, komposisi, bagaimana cara terjadinya, struktur kristal dan sifat fisiknya. Mineralogy merupakan dasar untuk dapat mempelajari batuan.

Petrologi, adalah ilmu yang mempelajari batuan, asal mula kejadiannya, struktur dan tekstur, klasifikasi atau pengelompokan dari berbagai jenis batuan yang terdapat diatas permukaan bumi

 

Stratigrafi, adalah ilmu yang mendesktipsi dan mempelajari perlapisan batuan-batuan, mengenai penyebaran, komposisi-ketebalan, unsur, keragaman dan korelasi lapisan batuan serta pelamparannya.

Paleontology, meripakan ilmu yang atau studi mengenai fosil-fosil, sisa-sisa dan jejak kehidupan masa lalu. Himpunan dari fosil-fosil yang dapat dipergunakan untuk membuat korelasi lapisan-lapisan yng berunur samadi suatu wilayah yang luas.

Geologi struktur, adalah ilmu yang mempelajari bentuk arsitektur permukaan bumi dan konfigurasi batuan dikerak bumi yang terdeformasi dimana lapisan batuan terpatahkan, tergeser, atau terlipat menjadi pegunungan lipatan. Pengetahuan mengenai struktur dapat membantu dalam pencarian dan penyebaran bahan galian.

Geomorfologi, adalah ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dan proses-proses alam yang membentuknya. Menganalisa dan menginterpretasi sejarah terbentuknya bentang alam.

Geofisika, adalah ilmu atau studi mengenaisifat-sifat fisik bumi secara keseluruhan, termasuk kegempaan, gaya berat, kemagnitan, gradient suhu dan lain sebagainya.

Geokimia, pada dasarnya adalah studi mengenai komposisi (kimia) bumi. Mempelajari keberadaan unsur-unsur  yang bernilai ekonomis, isotop yang terdapat di bumi dan penyebaran unsur-unsur tertentu di berbagai tempat.

Geologi teknik, penggunaan geologi pada kerekayasaan, erat hubungannya dengan rekayasa sipil.

 

Geologi tata lingkungan, mempelajari pengaruh faktor geologi terhadap lingkungan, termasuk tata guna lahan, pengaruh pengambilan air tanah yang berlebihan terhadap lingkungan, Dsb.

Ilmu geologi juga berhubungan dengan ilmu yang lain seperti fisika, biologi, dan kimia.

.

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

PENGARUH KEBERADAAN SESAR DALAM EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI

PENGARUH KEBERADAAN SESAR DALAM EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI

A.      Sesar

 Sesar itu adalah salah satu jenis struktur yang merupakan struktur sekunder, atau kata lain sesar itu merupakan struktur yang terbentuk setelah batuan itu terbentuk. Struktur sesar adalah rekahan yang mengalami geseran-geseran yang jelas, pergeseran dapat berkisar dari beberapa millimeter sampai ratusan meter dan panjangnya dapat mencapai beberapa desimeter hingga ribuan meter. Sesar dapat terjadi pada segala jenis batuan. Akibat adanya pergeseran itu, sesar akan mengubah perkembangan topografi, mengontrol air permukaan dan bawah permukaan, merusak stratigrafi batuan dan sebagainya.

Berikut ini pendapat beberapa ahli mengenai pengertian Sesar.

Billing(1959)
Sesar didefinisikan sebagai bidang rekahan yang disertai oleh adanya pergeseran relatif (displacement) satu blok terhadap blok batuan lainnya. Jarak pergeseran tersebut dapat hanya beberapa milimeter hingga puluhan kilometer, sedangkan bidang sesarnya mulai dari yang berukuran beberapa centimeter hingga puluhan kilometer.
Ragan(1973):
Sesar merupakan suatu bidang rekahan yang telah mengalami pergeseran.
Park(1983):
Sesar adalah suatu bidang pecah (fracture) yang memotong suatu tubuh batuan dengan disertai oleh adanya pergeseran yang sejajar dengan bidang pecahnya.

Secara umum ada 3 (tiga) kelompok sesar utama, yaitu sesar naik, sesar normal dan sesar mendatar. Dan satu jenis lagi yaitu sesar obliqueTerbentuknya struktur sesar di suatu daerah umumnya tidak tunggal, artinya suatu sesar yang terbentuk akibat tektonik (waktu dan tempatnya sama) disuatu daerah selalu terjadi lebih dari satu jalur sesar dengan ukuran yang bervariasi. Kelompok struktur sesar demikian dinamakan sistem sesar.

Struktur sesar dapat diamati langsung di lapangan, yaitu dengan memperhatikan jejak-jejak pensesaran yang terekam pada batuan dan morfologi sekitarnya misalnya gawir sesar. Gerak suatu batuan akibat pensesaran terjadi di sepanjang bidang sesarnya, sedangkan arah gerakannya dapat diketahui dari jejak-jejak pensesarannya berupa gores-garis (slicken line), atau indikasi lainnya seperti, milonit, breksi sesar, drag fault dan sebagainya.

Unsur-unsur geometri sesar penting dipelajari untuk mengetahui sifat gerak dari proses pensesaran, disamping digunakan sebagai dasar dalam penamaan jenis sesar sesuai dengan klasifikasi sesar yang ada. Beberapa unsur geometri sesar yang perlu diketahui, antara lain :

  • Fault surface (Bidang Sesar) adalah bidang pecah pada batuan yang disertai oleh adanya pergeseran.
  • Fault line (Garis Sesar) adalah garis yang dibentuk oleh perpotongan bidang sesar dengan permukaan bumi.
  • Fault trace adalah jejak sesar.
  • Fault outcrop adalah singkapan sesar
  • Fault scarp adalah gawir sesar
  • Fault zone adalah zona sesar
  • Fault wall adalah dinding sesar
  • Hanging Wall adalah blok yang berada di atas bidang sesar
  • Foot Wall adalah blok yang berada di bawah bidang sesar
  • Hade adalah sudut lancip antara bidang sesar dengan bidang vertical
  • Slip adalah pergeseran relatif antara dua titik yang sebelumnya saling berimpit.
  • Strike slip fault adalah pergeseran blok pada bidang sesar yang sejajar dengan jurus bidang sesarnya.
  • Dip slip fault adalah pergeseran blok pada bidang sesar yang tegak lurus terhadap jurus bidang sesarnya atau sejajar dengan arah kemiringan bidang sesarnya.
  • Dip of fault adalah sudut yang dibentuk antara bidang sesar dengan bidang horizontal.
  • Strike of fault adalah garis yang dibentuk oleh perpotongan bidang sesar dengan bidang horisontal.
  • Pitch adalah sudut lancip yang dibentuk antara gores garis dengan jurus bidang sesar.

B.       Eksplorasi

Eksplorasi migas adalah kegiatan untuk mendapatkan perangkap migas atau cadangan baru minyak dan gas bumi.Pekerjaan eksplorasi melalui beberapa tahap diantaranya adalah:

1. Pendahuluan.

2. Pemetaan geologi (surface mapping).

3. Pemetaan bawah permukaan (sub surface mapping).

4. Pengeboran.

C.      Petroleum System

Faktor-faktor yang menjadi perhatian studi Petroleum System adalah batuan sumber (source rocks), pematangan (maturasi),  reservoir, migrasi, timing, perangkap (trap), batuan penyekat (sealing rock).

  1. Source rocks

Source rocks adalah endapan sedimen yang mengandung bahan-bahan organik yang dapat menghasilan minyak dan gas bumi ketika endapan tersebut tertimbun dan terpanaskan. Bahan-bahan organik yang terdapat didalam endapan sedimen selanjutnya dikenal dengan kerogen (dalam bahasa Yunani berarti penghasil lilin).

Terdapat empat tipe kerogen:

Tipe I: bahan- bahan organic kerogen Tipe I merupakan alga dari lingkungan pegendapan lacustrine dan lagoon.Tipe I ini dapat mengkasilkan minyak ringan (light oil) dengan kuallitas yang bagus serta mampu menghasilkan gas.

Tipe II: merupakan campuran material tumbuhan serta mikroorganisme laut. Tipe ini merupakan bahan utama minyak bumi serta gas.

Tipe III: Tanaman darat dalam endapan yang mengandung batu bara. Tipe ini umumnya menghasilkan gas dan sedikit minyak.

Tipe IV: bahan-bahan tanaman yang teroksidasi. Tipe ini tidak bisa menghasilkan minyak dan gas.

Kandungan kerogen dari suatu source rock dikenal dengan TOC (Total Organic Carbon), dimana standar minimal untuk ‘keekonomisan’ harus lebih besar dari 0.5%. Implikasi penting dari pengetahuan tipe kerogen dari sebuah prospek adalah kita dapat memprediksikan jenis hidrokarbon yang mungkin dihasilkan (minyak, gas, minyak & gas bahkan tidak ada migas).

2.        Maturasi

Maturasi adalah proses perubahan secara biologi, fisika, dan kimia dari kerogen menjadi minyak dan gas bumi. Proses maturasi berawal sejak endapan sedimen yang kaya bahan organic terendapkan. Pada tahapan ini, terjadi reaksi pada temperatur rendah yang melibatkan bakteri anaerobic yang mereduksi oksigen, nitrogen dan belerang sehingga menghasilkan konsentrasi hidrokarbon.Proses ini terus berlangsung sampai suhu batuan mencapai 50 derajat celcius. Selanjutnya, efek peningkatan temperatur menjadi sangat berpengaruh sejalan dengan tingkat reaksi dari bahan-bahan organik kerogen.Karena temperatur terus mengingkat sejalan dengan bertambahnya kedalaman, efek pemanasan secara alamiah ditentukan oleh seberapa dalam batuan sumber tertimbun (gradien geothermal).

Gambar dibawah ini menunjukkan proporsi relatif dari minyak dan gas untuk kerogen tipe II, yang tertimbun di daerah dengan gradien geothermal sekitar 35 °C km -1 .

 

from OpenLearn – LearningSpace

Terlihat bahwa minyak bumi secara signifikan dapat dihasilkan diatas temperature 50 °C atau pada kedalaman sekitar 1200m lalu terhenti pada suhu 180 derajat atau pada kedalaman 5200m. Sedangkan gas terbentuk secara signifikan sejalan dengan bertambahnya temperature/kedalaman.

Gas yang dihasilkan karena factor temperatur disebut dengan termogenic gas, sedangkan yang dihasilkan oleh aktivitas bakteri (suhu rendah, kedalaman dangkal <600m) disebut dengan biogenic gas.

3.        Reservoir

Reservoir Adalah batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan hidrokarbon. Dengan kata lain batuan tersebut harus memiliki porositas dan permeabilitas.  Jenis reservoir umumnya batu pasir dan batuan karbonat dengan porositas 15-30%. Pori pori ini bisa berupa pori antar butiran, pori didalam butiran dan juga rekah-rekah yang terbentuk akibat gaya (tekan-tarik) dari luar batuan.

4.        Migrasi

Migrasi adalah proses trasportasi minyak dan gas dari batuan sumber menuju reservoir. Proses migrasi berawal dari migrasi primer (primary migration), yakni transportasi dari source rock ke reservoir secara langsung. Lalu diikuti oleh migrasi sekunder (secondary migration), yakni migrasi dalam batuan reservoir nya itu sendiri (dari reservoir bagian dalam ke reservoir bagian dangkal).

from OpenLearn – LearningSpace

Prinsip dasar identifikasi jalur-jalur migrasi hidrokarbon adalah dengan membuat peta reservoir. Kebalikannya dari air sungai di permukaan bumi, hidrokarbon akan melewati punggungan (bukit-bukit) dari morfologi reservoir.

Setelah terbentuk minyak yang berasal dari batuan induknya maka minyak yang mempunyai wujud cair ini akan berusaha keluar dari batuan induknya karena tekanannya lebih besar dari pada sekelilingnya. Ada yang menyebutnya sebagai exspulsion dan proses mengalirnya ke batuan sarang (reservoir) disebut migrasi yang pertama (first migration), namun ada pula ada yang menyebutnya poses keluarnya dari batuan induk ini disebut migrasi awal (first migration) dan sewaktu menuju batuan sarang (reservoir) disebut migrasi kedua (secondary migration).  

5.        Timing

Waktu pengisian minyak dan gas bumi pada sebuah perangkap merupakan hal yang sangat penting. Karena kita menginginkan agar perangkap tersebut terbentuk sebelum migrasi, jika tidak, maka hidrokarbon telah terlanjur lewat sebelum perangkap tersebut terbentuk.

 6.        Perangkap

Perangkap ini berfungsi sebagai tempat terkumpulnya minyak dan gas bumi. Perangkap minyak bumi ini terbagi menjadi perangkap stratigrafi, perangkap struktural, perangkap kombinasi stratigrafi-struktural, perangkap hidrodinamik.

Perangkap Stratigrafi

Perangkap ini dipengaruhi variasi perlapisan secara vertikal dan lateral, perubahan facies batuan, dan ketidakselarasan dan variasi lateral dalam litologi pada suatu lapisan reservoar dalam perpindahan minyak bumi. Transportasi minyak dan gas bumi yang kea rah lebih ringan sehingga selalu mencari jal untuk keluar kemudian terhalang dari bagian atas dan pinggir dan terperangkap, hal ini dikarenakan batuan reservoar telah menghilang atau berubah fasies menjadi batu lain sehingga merupakan penghalang permeabilitas (Koesoemadinata, 1980, dengan modifikasinya).

Perangkap Struktural

Perangkap struktural ini banyak dipengaruhi oleh kejadian deformasi perlapisan, dengan terbentuknya struktur lipatan atau patahan yang merupakan respon dari kejadian tektonik dan merupakan perangkap yang paling asli dan perangkap yang paling penting. (Koesoemadinata, 1980, dengan modifikasinya).

  • Perangkap Patahan

perangkap patahan merupakan patahan yang terhenti pada lapisan batuan. Perangkap  ini terjadi bersama sebuah formasi dalam bagian patahan yang bergerak, kemudian gerakan pada formasi ini berhenti, dan pada saat yang bersamaan minyak bumi mengalami migrasi dan terjebak pada daerah patahan tersebut, lalu sering kali pada formasi yang impermeabel yang pada satu sisinya berhadapan dengan pergerakan patahan yang bersifat sarang dan formasi yang permeabel pada sisi yang lain. Kemudian, minyak bumi bermigrasi pada formasi yang sarang dan permeabel. Minyak dan gas disini sudah terperangkap karena lapisan tidak dapat ditembus pada daerah jebakan patahan ini.

  • Perangkap  Antiklin

Perangkap  antiklin, perangkap  yang antiklinnya melipat ke atas pada lapisan batuan, yang memiliki bentuk menyerupai kubah pada bangunan. Minyak dan gas bumi bermigrasi pada lipatan yang sarang dan pada lapisan yang permeabel, serta naik pada puncak lipatan. Disini, minyak dan gas sudah terjebak karena lapisan yang diatasnya merupakan batuan impermeabel.

Perangkap Hidrodinamik

Kemudian perangkap yang terakhir adalah perangkap hidrodinamik. Perangkap ini sangta jarang karena dipengaruhi oleh pergerakan air. Pergerakan air ini yang mampu merubah ukuran pada akumulasi minyak bumi atau dimana jebakan minyak bumi yang pada lokasi tersebut dapat menyebabkan perpindahan.

7.        Batuan penyekat (seal)

Seal adalah system batuan penyekat yang bersifat tidak permeable seperti batulempung/mudstone, anhydrite dan garam. Berfungsi sebagai lapisan penutup, sehingga Minyak dan Gas Bumi bisa terkumpul.

 D.      Keberadaan Sesar Dalam Eksplorasi Minyak Dan Gas Bumi

Beredasarkan konsep yang ada, Keberadaan sesar dalam eksplorasi minyak dan gas bumi diantaranya adalah sesar bisa menjadi jalur migrasi vertical hidrokarbon, dengan demikian bisa membuat hidrokarbon terperangkap ditempat yang lebih dangkal atau malah bocor sampai ke permukaan. Sesar dapat menjadi bagian dari perangkap hidrokarbon, ketika bidang sesar itu menjadi seal (fault seal). Keberadaan sesar juga membuat pengembangan lapangan hidrokarbon menjadi lebih sulit, atau lebih mahal, karena harus melakukan pengeboran sumur  lebih banyak  untuk mendapatkan minyak dan atau  gas bumi yang ada dilapangan, karena bidang sesarnya berfungsi sebagai seal (fault seal) , sehingga dua atau lebih blok yang berisi hidrokarbon tidak saling berhubungan.

DAFTAR PUSTAKA

Billings marland P, 1960, Structural Geology. second edition. Tokyo: Charles E. Tuttle company

Haryanto Iyan. 2003. Geologi Struktur. Jatinangor : Geologi Unpad

Endarto Danang. 2005. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: UNS press

http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2008/11/petroleum-system-sistem-minyak-dan-gas.html

http://ilmugeologistpertambangan.blogspot.com/2011/03/fault-patahan.html

http://migasnet04-ade8034.blogspot.com/2010/01/eksplorasi-migas.html

http://blog.unsri.ac.id/darajat/perminyakan/mrlist/40/

http://www.phpbber.com/phpbb/viewtopic.php?t=168&sid=1140d2a3dc57d9e89470bb62969697fb&mforum=geotutor

 

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

TANAH SEBAGAI FAKTOR SANITASI LINGKUNGAN

TANAH SEBAGAI FAKTOR SANITASI LINGKUNGAN

I.              Pendahuluan

Tanah merupakan bagian dari lingkungan, dimana tanah bisa menjadi tempat hidup untuk organisme, baik itu sebagai tempat tumbuh kembang, mencari makan, ataupun yang lainnya, oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan menulis sebuah tulisan yaitu “Tanah Sebagai Faktor Sanitasi Lingkungan”, tulisan ini merupakan tugas yang di berikan oleh dosen pengampu mata kuliah Geopedologi, tugas yang lainnya yaitu “Tanah Sebagai Sumber Daya”. Dalam penulisan tugas kali ini saya menggunakan metode kaji pustaka, dimana sebagai sumber nya adalah dari internet.

II.            Pembahasan

A.   Tanah (soil)

seperti halnya tugas yang satu nya yaitu tentang “Tanah Sebagai Sumber Daya”, maka untuk mengawali pembahasan yang akan di bahas yaitu tentang tanah itu sendiri. Tapi pengertian pada kali ini akan sedikit berbeda. Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel halus. Pada tahun 1870 seorang ahli pedologi yaitu Dokuchaev mendefinisikan tanah sebagai bahan padat (bahan mineral atau bahan organik) yang terletak dipermukaan, yang telah dan sedang serta terus menerus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) bahan induk, (2) iklim, (3) organisme, (4) topografi, dan (5) waktu.

Lima fungsi utama tanah adalah: (1) tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman, (2) penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara), (3) penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh, hormon, vitamin, asam-asam organik, antibiotik, toksin anti hama, dan enzim yang dapat meningkatkan ketersediaan hara) dan siklus hara, dan (4) sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama dan penyakit tanaman, (5) lokasi pembangunan berbagai infrastruktur, seperti bangunan rumah, kantor, supermarket, jalan, terminal, stasiun dan bandara.

B.   Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebaginya (Notoadmojo, 2003).

Pengertian Lingkungan Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) adalah ”Tempat pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme itu.

Lingkungan kita pun  dalam kehidupan ini tak akan terlepas dari yang namanya limbah, ataudalam konsep suatu pengertian limbah itu merupakan suatu hasil dari proses yang memiliki nilai komersial rendah atau hasilnya belum bermanfaat jika tidak di daur ulang. Limbah akan menjadi suatu bahan atau zat pencemar yang bersifat pengotor terhadap lingkungan, dikarenakan zat pencemar tersebut ada yang bersifat racun baiku bagi tumbuhan, hewan, maupun manusia. Selain itu limbah akan menimbulkan bau yang tidak sedap, eutrofikasi perairan, dan lain sebagainya.

III.           Kesimpulan

Tanah Sebagai Sanitasi Lingkungan

Ditinjau dari pengertian tanah serta sanitasi lingkungan, maka dalam kesimpulan ini saya akan menuliskan apa si peran tanah dalam sanitasi lingkungan, maka fungsi tanah dalam hal sanitasi lingkungan yaitu melindungi dan menetralisir zat-zat berbahaya yang terdapat dalam sampah ataupun limbah, dimana ketika ada pencemaran pada lingkungan maka Tanah itu merupakan salah satu unsur yang peranannya cukup penting dalam mengatasi pencemaran suatu lingkungan tersebut, seperti penyangga kimia (buffer), penyaringan, pengendapan, pengalihragaman (Transformer), Serta pengendali biologi.

IV.          Daftar pustaka

http://erfan1977.wordpress.com/2011/09/20/fungsi-tanah-dalam-pencemaran-lingkungan/

http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2008/02/definisi-tanah-fungsi-dan-profil-tanah.html

http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/sanitasi-lingkungan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Sanitasi

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

TANAH DAN SUMBER DAYA

TANAH DAN SUMBER DAYA

I.              Pendahuluan

Seringkita mendengar istilah tanah atau dalam suatu sudut pandang keilmuan yaitu Soil namun terkadang kita kurang mengetahui apa itu soil dan apakah tanah (soil) merupakan sumber daya, maka dalam kesempatan kali ini, yang sekaligus merupakan tugas yang telah di amanahkan oleh dosen pengampu mata kuliah geopedologi saya akan mencoba menuliskan tentang “Tanah dan Sumber Daya”, atau dalam kata lain tanah Sebagai Sumber Daya.

II.            Pembahasan

A.   Tanah (soil)

Tanah dalam bahasa yunani yaitu “pedon” ataupun dalam bahasa latin yaitu “solum” mempunyai pengertian yaitu suatu bagian dari kerak bumi yang tersusun dari mineral dan atau bahan organik.

Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ”pedogenesis”. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisikakimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.

Hans Jenny (1899-1992), yang merupakan seseorang yang serius di bidang tanah atau pengertian lainnya adalah seorang pakar tanah yang berasal dari Swiss dan bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah itu terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami proses pelapukan akibat adanya dinamika faktor iklim, organisme, topografi yang seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

B.   Sumber Daya

Sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga non-fisik (intangible). Sumber daya ada yang dapat berubah, baik menjadi semakin besar maupun hilang, dan ada pula sumber daya yang kekal (selalu tetap). Selain itu, dikenal pula istilah sumber daya yang dapat pulih atau terbarukan (renewable resources) dan sumber daya tak terbarukan (non-renewable resources).

 

 

 III.           Kesimpulan

  Tanah Sebagai Sumber Daya

Tanah kaitannya erat dengan industri pertanian, perkebuan, serta ada juga yang berhubungan dengan pertambangan. Jenis tanah-tanah yang digunakan untuk usaha pertanian antara lain Inceptisol, Entisol, Vertisol, Andisol, Alfisol, Mollisol, Oxisol, Histosol, dan Spodosol.

Dalam industri pertambangan seperti nikel, dimana keberadaan deposit atau endapan nikel itu terdapat pada tanah. Dimana formasi Laterit didefinisikan sebagai produk yang dihasilkan dari pelapukan yang kuat pada daerah-daerah tropis, lembab, dan hangat yang kaya akan lempung kalolinit sebagai oksida dan oksihidroksida dari Fe dan Al. Laterit penting secara ekonomi karena mengandung logam alumunium (bauksit). Laterit nikel berasal dari batuan ultramafik yang mengandung olivin dan ortopiroksen dengan berlimpah, dan karenanyakaya akan nikel. Laterit nikel mengandung konsentrasi nikel silikat atau nikel oksida yang mencapai 10 kali lipat darikonsentrasi aslinya. Penambangan laterit nikel jauh lebih mudah daripada penambangan bijih sulfida magmatik. Bijih nikel berhubungan dengan eluviasi nikel dari residu pada lapisan laterit teratas dan konsenrasi di dasar illuvium saprolit sebagaitalk nikeliferous, serpentin, atau smektit, dan bersamaan dengan geotit meskipun jarang.

IV.          Daftar pustaka

Pustaka yang menjadi acuan adalah sebagai berikut, yang dimana di download pada hari minggu tanggal 25 maret 2012.

http://www.scribd.com/doc/38551305/Genesa-Nikel

http://girlsoilscientist.blogspot.com/2009/03/sumberdaya-tanah.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah

http://paryoto.com/tanah.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya

 

Categories: Bumi | Tinggalkan komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.